Senin, 06 April 2015

pemasangan NGT

.1  Pengertian NGT
Terdisi dari dua kata dari bahasa latin dan bahasa yunani, naso adalah suatu kata ygang berhubungan dengan hidung dan berasal dari latin Nasus untuk hidung atau moncong hidung. Gastrick berasal dari bahasa yunani  Gagster yang artinya the paunch ( perut gendut ) atau yang berhubungan dgn perut. Istilah Nasogastric bukanlah istilah kuno melainkan sudah disebuj pada tahun 1942. Selang Nasogastrick atau NGT adalah suatu selang yang dimasukan melalui hidung sampai kelambung. Sering digunakan seseorang yang tidak mampu untuk mengkonsumsi makanan, cairan, dan obat-obatan secara oral. Juga digunakan untuk mengeluarkan isì lambung.
NGT (Naso Gastric Tube) adalah suatu tindakan keperawatan yang diberian pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara oral atau tidak mampu menelan makanan dengan car memberikan makanan langsung ke lambung (Gaster) dengan selang yang dimasukkan dari hidung (Naso). Ukuran NGT diantaranya di bagi menjadi 3 kategori yaitu:
a.       Dewasa ukurannya 16-18 Fr
b.      Anak-anak ukurannya 12-14 Fr
c.       Bayi ukuran 6 Fr
Indikasi pemasangan NGT
Indikasi pasien yang di pasang NGT adalah diantaranya sebagai berikut:
a.         Pasien tidak sadar
b.         Pasien Karena kesulitan menelan
c.         Pasien yang keracunan
d.        Pasien yang muntah darah
e.         Pasien Pra atau Post operasi esofagus atau mulut.
ASUHAN KEPERAWATAN             
1. Pengkajian pengkajian berfokus pada riwayat masalah sinus atau nesal, adanya distensi abdomen, ukuran NGT yang digunakan sebelumnya (jika ada) Bioadata pasien : nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan dan diagnosa medis. Riwayat kesehatan : Sekarang dan masa lalu. Kondisi kesehatan saat ini. Pemeriksaan fisìk : kesadaran umum dan tanda tanda vital. Data Penunjang : oxygen Saturatation dan Chest X-ray.

2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan pemasangan NGT adalah :
a)      Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan.
b)      Gangguan rasa nyaman : mual dan muntah.
c)      Kurang pengetahuan.
3. Perencanaan secara umum
Perencanaan untuk pemasangan NGT sesuai dengan tujuan dan manfaat tindakan indikasì dan kontraindikasi. Perencanaan Keperawatan bertujuan untuk menghindari beberarapa komplikasi:
1. Komplikasi Mekanis bersihkan sonde dengan menyemprotkan air sedikitnya tiap 24 jam agar tidak terjadi sumbatan pada lumen NGT. Letakan sonde pada hidung pasien dengan plaster tanpa menimbulkan rasa sakit dan tinggikan kepala pasien untuk menghindarì dislokasi sonde.
2. Komplikasi pulmonal untuk menghìndari anpirasi kecepatan aliran nutrisi tidak boleh terlalu tinggi, letak sonde mulai hidung sampai kelambung harus sempurna.
3. Komplikasi yang disebabkan oleh tidak sempurnanya kedudukan sonde. Sonde sebelum dipasang harus diukur secara individual, letakan dengan sempurna, pastikan NGT tidak bergeser.
4. Komplikasì akibat zat nutrisi. Komplikasi metabolic hiperglikemia dan komplikasi di usus ( diare, perut terasa perih, rasa mual terutama pada masa permulaan pemberian nutrìsi ).
EVALUASI
Setelah melakukan proses keperawatan baik dari hari hasil pengkajian, diagnosa dan perencanaan NGT perlu dikaji hasil yang diharapkan sudah tercapaì atau belum, pengkajian yang terus menerus terhadap kriteria hasìl yang diharapkan sehingga tercapai tindakan keperawatan yang berkualitas.
1. Tidak terjadi komplikasì aspirasi, pasal irrìtation epistaxis, esophagotracheal fistula sebagai dampak dari pemasangan NGT.
2.  Tingkat pengetahuan pasien dan keluarga bertambah biasa diajak kerjasama dalam           melakukan asuhan keperawatan secara utuh.
3.     Kebutuhan pasien terpenuhi secara adekuat ( Nutrisi dan Cairan ).
2. Tujuan Pemasangan NGT                          
Tujuan dari pemasangan NGT adalah sebagai berikut:
a.       Memberikan nutrisi pada pasien yang tidak sadar dan pasien yang mengalami kesulitan menelan
b.      Mencegah terjadinya atropi esophagus/lambung pada pasien tidak sadar
c.       Untuk melakukan kumbah lambung pada pasien keracunan
d.      Untuk mengeluarkan darah pada pasien yang mengalami muntah darah atau pendarahan pada lambung
3  Pemasangan NGT
1.      Pemasangan NGT pada anak
a.   Persiapan alat
1.      baki dan alas
2.      NGT sesuai kebutuhan (bayi no. 5-8 dan anak no. 10-14)
3.      Spuit 10-20 cc
4.      Serbet makan
5.      Kain alas
6.      Nierbeken
7.      Plester dan gunting
8.      Makanan cair yang hangat sesuai kebutuhan
9.      Air matang dalam tempatnya
10.  Obat yang telah dicairkan (bila perlu)
b.  Prosedur
1.      Membacakan catatan keperawatan dan catatan medis klien
2.      Menyiapkan alat-alat dan privasi ruangan
3.      Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan kepada klien/keluarga
4.      Mencuci tangan
5.      Anak diatur dalam posisi semi fowler. Pada anak yang gelisah bila tidak ada orang lain yang membantu pasang restrain, pada bayi di bedong
-  Meningkatkan kemampuan klien untuk menelan
6.      Meletakkan kain alas di bawah kepala bayi/anak
-  Pemasangan selang dapat menyebabkan keluarnya air mata atau muntah
7.      Serbet makan dipasang di atas dada. Nierbeken diletakkan disamping pipi
-  Agar tidak mengotori pakaian klien. Pemasangan selang dapat menyebabkan keluarnya air mata
8.      Membersihkan lubang hidung
9.      Mengukur panjang selang yang akan dimasukkan dengan menggunakan :
-  Metode tradisional
Untuk jarak dari puncak lubang hidung ke dalam telinga bawah dan ke prosesus xipoideus di sternum
-  Metode Hanson
Mula-mula tandai 50 cm pada selang kemudian lakukan pengukuran dengan metode tradisional. Slang yang akan dimasukkan pertengahan antara 50 cm dan tanda tradisional
10.  Memberi tanda pada panjang selang yang sudah diukur dengan menggunakan plester
11.  Mengoleskan jeli pada NGT
-       Pelumasan menurunkan friksi antar membrane mukosa dengan selang
12.  Memasukkan pipa lambung ke dalam salah satu lubang hidung sampai batas yang telah ditentukan
13.  Melanjutkan memasukkan selang sepanjang rongga hidung. Jika terasa agak tertahan, memutar selang dan tidak dipaksakan untuk dimasukkan.
-       Meminimalkan ketidaknyamanan akibat pemasangan NGT. Dengan memasukkan selang dengan cara memutar dan sedikit menarik, ujung selang akan mudah masuk ke faring.
14.  Memeriksa ketepatan pipa masuk ke dalam lambung dengan cara:
-       Menghisap cairan lambung dengan spuit
-       Mendengarkan melalui stetoskop sementara melalui pipa dimasukkan udara 2-3 cc dengan spuit
-       Mencegah selang masuk ke sistem pernafasan
15.  Menambatkan pipa lambung dengan plester
16.  Spuit dipasang pada pangkal pipa kemudian udara di hisap kembali
17.  Memberi kenyamanan pada anak selama pemberian makan
-       Memberi kenyamanan akan mengurangi kecemasan.
18.  Menuangkan sedikit air matang  (2-5 cc) di susul dengan makanan cair melalui pinggir spuit
19.  Bila  makanan cair sudah habis, menuangkan lagi sedikit air matang
20.  Setelah selesai memberi makan, memposisikan anak dalam keadaan semi fowler dan memiringkan ke kanan selama setengah jam. Pada bayi, setelah pemberian makanan melalui pipa, bayi diangkat dan punggungnya di  tepuk-tepuk kemudian dibaringkan miring
-       Meminimalisir terjadinya muntah
21.  Alat-alat dibersihkan, dirapikan dan dikembalikan ke tempat semula.
22.  Perawat mencuci tangan
23.  Memcatat macam dan jumlah makanan cair yang diberikan
24.  Observasi keadaan umum selanjutnya
2.      Pemasangan NGT pada dewasa
                           a.      Persiapan alat :
1.      NGT dengan nomor tertentu sesuai dengan usia pasien
2.      Jelly yang larut dalam air
3.      Tongue spatel
4.      Sarung tangan
5.      Spuit ukuran 50-100cc
6.      Stetoskop
7.      Handuk
8.      Tisu
9.      Bengkok
                          b.      Prosedur :
1.         Jelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuan
2.         Dekatkan alat-alat ke pasien
3.         Cuci tangan
4.         Atur posisi pasien dalam posisi high fowler
5.         Pasang handuk pada dada pasien dan tisu
6.         Cek kondisi lubang hidung pasien, perhatikan adanya sumbatan
7.         Kenakan sarung tangan
8.         Untuk menentukan insersi NGT, instruksikan pasien untuk rileks dan bernafas secara normal dengan menutup salah satu lubang hidung. kemudian ulangi pada lubang hidung lainnya.
9.         Ukur panjang tube yang akan dimasukan dengan menggunakan metode
a. Metode tradisional:
Ukur jarak dari puncak lubang hidung ke daun telinga dan ke prosessus xipoideus di sternum.
b. Metode Hanson:
Mula-mula tandai 50cm pada tube, kemudian lakukan pengukuran dengan metode tradisional. Selang yang akan dimasukkan pertengahan antara 50cm dengan tanda tradisional.
10.     Beri tanda pada panjang selang yang sudah di ukur dengan plester
11.     Olesi jelly pada NGT sepanjang 10-20cm
12.     Informasikan kepada pasien bahwa selang dimasukan dan instrusikan pasien untuk mengatur posisi kepala ekstensi
13.     Bila selang sudah melewati nasofaring (kira-kira 3-4 cm), instruksikan pasien untuk menekuk leher dan menelan
14.     Jika sudah selesai memasang NGT periksa letak selang dengan cara : pasang spuit yang telah ditarik pendorongnya pada 10-20 ml udara, pada ujung NGT. Letakkan steteskop pada daerah gaster, kemudian suntikan spuit tersebut. Jika pada auskultasi terdengar suara hentakan udara, berarti selang NGT masuk kedalam lambung. Aspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan isi lambung dengan menggunakan spuit. Masukan ujung bagian luar selang NGT kedalam mangkok yang berisi air. Jika ada gelembung udara, berarti masuk kedalam paru-paru, jika tidak ada gelembung udara, berarti masuk kedalam lambung.
15.     Fiksasi selang NGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
16.     Tutup ujung luar NGT
17.     Evaluasi pasien setelah terpasang NGT
18.     Rapikan alat-alat
19.     Cuci tangan
20.     Dokumentasikan hasil tindakan ini pada catatan perawatan 


CARA PEMASANGAN NASOGASTRIK TUBE (NGT)

NASOGASTRIK TUBE

INDIKASI
  1. Aspirasi cairan lambung
  2. Untuk memasukkan nutrisi atau makanan bagi pasien yang sulit menelan.
  3. Untuk mendiagnosis suatu penyakit
  4. Bilas lambung pada keracunan
KONTRAINDIKASI
  1. Pasien dengan trauma cervical
  2. Pasien dengan fraktur facialis
  3. Pasien dengan varises oesophagus
ALAT DAN BAHAN
  1. Selang nasogastrik tube
  2. Jelly
  3. Pinset steril
  4. Sarung tangan
  5. Stetoskop
  6. Spoit 10cc
  7. Plester
  8. Senter kecil
CARA PEMASANGAN
  1. Mintalah persetujuan pasien sebelum melakukan tindakan pemasangan NGT. Jelaskan kepada pasien tentang tujuan pemasangan, proses pemasangan, serta alat yang digunakan
  2. Persiapkan alat dan bahannya. Setelah itu letakkan di tempat yang mudah dijangkau.
  3. Cuci tangan rutin. Gunakan sarung tangan.
  4. Posisikan pasien. Jika pasien dalam keadaan sadar, posisikan pasien setengah berbaring. Namun jika pasien dalam keadaan tidak sadar, posisikan pasien dalam keadaan berbaring, kepala diangkat sedikit atau diberi pengganjal agar lurus.
  5. Perhatikan cavum nasi (rongga hidung) pasien, apakah ada polip, benda asing, yang menyebabkan sumbatan pada hidung
  6. Pilihlah cavum nasi yang paling longgar untuk selang NGT masuk.
  7. Ukurlah panjang selang yang akan dimasukkan mulai dari puncak hidung ke telinga, lalu dari telinga ke Proc. Xiphoideus. Berikan tanda
  8. Oleskan selang dengan jelly
  9. Jepit selang dengan pinset dan masukkan perlahan ke dalam cavum nasi, jika terjadi tahanan, instruksikan pasien untuk menelan agar epiglottis terbuka.
  10. Setelah selang NGT masuk mencapi tanda yang telah diukur tadi, ujilah apakah selang telah masuk ke dalam lambung dengan cara isilah udara ke dalam spoit 10cc lalu hembuskan secara cepat ke dalam selang NGT lalu dengarkan dengan stetoskop yang telah diletakkan pada epigastrium. Jika terdengar bunyi suara, berarti selang telah masuk ke dalam lambung. Tes ini wajib dilakukan karena ditakutkan NGT masuk ke dalam paru-paru yang dapat menyebabkan aspirasi.
  11. Rekatkan NGT dengan menggunakan plester, plester jangan sampai menutupi rongga hidung.
  12. Jika cairan lambung banyak yang keluar, maka berikanlah wadah penampungan.
  13. Selang harus diganti setiap 10 hari.

Tanda-tanda Bahaya Kehamilan Lanjut

Tanda-Tanda Dini Bahaya/ Komplikasi Ibu Dan Janin Masa Kehamilan Lanjut


 Hasil gambar untuk tanda bahaya kehamilan lanjut

1.Perdarahan Pervaginam
Perdarahan per vaginam pada kehamilan lanjut terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Perdarahan antepartum dapat berasal dari kelainan plasenta (plasenta previa, solusio plasenta atau perdarahan yang belum jelas sebabnya).
Pada awal kehamilan, ibu mungkin akan mengalami perdarahan yang sedikit (spotting) di sekitar waktu pertama terlambat haid. Perdarahan ini adalah perdarahan implantasi (penempelan hasil konsepsi pada dinding rahim) dan ini normal terjadi. Pada waktu yang lain dalam kehamilan, perdarahan ringan mungkin terjadi pertanda servik yang rapuh (erosi). Perdarahan semacam ini mungkin normal atau mungkin suatu tanda adanya infeksi.
Perdarahan yang tidak normal adalah perdarahan yang banyak, merah atau disertai nyeri. Perdarahan ini dapat berarti keguguran, kehamilan mola (hamil anggur) atau kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim),plasenta previa (plasenta meutupi jalan lahir) atau solusio plasenta.
  1. Plasenta previa
             Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan-lahir. Pada keadaan normal plasenta terletak di bagian atas.
             Klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu:
  • Palsenta previa totalis apabila seluruh ostium internum tertutup oleh plasenta.
  • Plasenta previa lateralis/ parsialis apabila hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.
  • Plasenta previa marginalis hanya pada pinggir ostium terdapat  jaringan plasenta.
Pada inspeksi dijumpai :
  • • Perdarahan per vaginam encer sampai bergumpal.
  • • Pada perdarahan yang banyak, ibu tampak anemis.
             Pemeriksaan fisik ibu
  • • Dijumpai keadaan bervariasi dari keadaan normal sampai syok.
  • • Kesadaran penderita bervariasi dari kesadaran baik sampai koma.
  • • Pada pemeriksaan, dapat dijumpai
— Tekanan darah, nadi, dan pernapasan dalam batas normal.
— Tekanan darah, nadi, dan pernapasan meningkat.
— Daerah ujung menjadi dingin
— Tampak anemis.
             Pemeriksaan khusus kebidanan
  1. Palpasi abdomen
— Janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur kehamilan.
— Karena plasenta di segmen bawah rahim, dapat dijumpai kelainan letak janin dalam rahim dan bagian terendah masih tinggi.
  1. Pemeriksaan denyut jantung janin
— Bervariasi dari normal sampai asfiksia dan kematian janin dalam rahim.
  1. Pemeriksaan dalam
Tujuan pemeriksaan dalam adalah:
— Menegakkan diagnosis pasti.
— Mempersiapkan tindakan untuk melakukan operasi persalinan atau hanya memecahkan ketuban.
— Hasil pemeriksaan dalam teraba plasenta sekitar ostium uteri intcrnum.
  1. Pemeriksaan penunjang
— Pemeriksaan USG
— Mengurangi pemeriksaan dalam
— Menegakkan diagnosis.
             Intervensi
1. Segera lakukan operasi persalinan untuk dapat menyelamatkan ibu dan anak atau mengurangi kesakitan dan kematian.
2. Pecahkan ketuban di atas meja operasi dilanjutkan dengan pengawasan untuk dapat melakukan pertolongan lebih lanjut.
3. Jika terjadi perdarahan pada plasenta previa, rujuk ke tempat pertolongan persalinan yang mempunyai fasilitas yang cukup.
             Rujukan penderita plasenta previa sebaiknya dilengkapi dengan:
  • • Pemasangan infus untuk mengimbangi perdarahan
  • • Sedapat mungkin diantar oleh petugas
  • • Dilengkapi dengan keterangan secukupnya
  • • Dipersiapkan donor darah untuk transfusi.
Bahaya untuk janin:
  • Hypoxia
  • Perdarahan dan shock
  1. Solutio plasenta
Solutio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum jalan lahir. Apabila terjadi sebelum kehamilan 20 minggu, mungkin akan dibuat diagnosis abortus imminens. Plasenta dapat terlepas seluruhnya, solution plasenta totalis, atau sebagian solution plasenta parsialis, atau hanya sebagian kecil pinggir plasenta.
Pada solution plasenta darah dari tempat pelepasan, mencari jalan keluar antara selaput janin dan dinding rahim dan akhirnya keluar dari cervix terjadilah perdarahan keluar atau perdarahan nampak. Kadang-kadang darah tidak keluar tapi berkumpul di belakang plasenta membentuk haematom retroplacentair. Perdarahan ini disebut perdarahan ke dalam atau perdarahan tersembunyi.
1. Anamnesis
  • • Terdapat perdarahan disertai rasa nyeri
  • • Terjadi spontan atau karena trauma
  • • Perut terasa nyeri
  • • Diikuti penurunan sampai terhentinya gerakan janin dalam rahim.
2. Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan fisik umum
— Keadaan umum penderita tidak sesuai dengan jumlah perdarahan
— Tekanan darah menurun, nadi, dan pernapasan meningkat
— Penderita tampak anemis
Pemeriksaan khusus
— Palpasi abdomen : Perut tegang terus – menerus, terasa nyeri saat dipalpasi, bagian janin sukar ditentukan
— Auskultasi : Denyut jantung janin bervariasi dari asfiksia ringan sampai berat.
— Pemeriksaan dalam : Terdapat pembukaan, ketuban tegang dan menonjol
3. Pemeriksaan penunjang dengan USG dijumpai perdarahan antara plasenta dan dinding abdomen.
a. Solusio plasenta ringan
1. Lakukan penanganan secara konservatif, jika perut tegang sedikit, perdarahan tidak terlalu banyak dan keadaan janin masih baik.
2. Lakukan sesar jika perdarahan terus berlangsung, ketegangan makin meningkat, namun kondisi janin masih baik
3. Lakukan rawat inap jika perdarahan berhenti dan keadaan baik pada kehamilan prematur.
b. Solusio plasenta sedang dan berat
1. Pasang infus dan transfusi darah
2. Pecahkan ketuban
3. Induksi persalinan atau lakukan sesar
Dalam menangani solusio plasenta, mungkin bidan melakukan rujukan dengan memberi pertolongan kedaruratan seperti memasang infus, tidak melakukan pemeriksaan dalam, diantar petugas yang dapat memberikan pertolongan, mempersiapkan donor dari masyarakat atau keluarga, dan menyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama.
Komplikasi
 Perdarahan, yang dapat menimbulkan :
  • • Variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok
  • • Perdarahan tidak sesuai dengan keadaan penderita anemis sampai syok
  • • Kesadaran bervariasi dare baik sampai koma.
                Perbedaan solution plasenta dan plasenta previa                            
Solutio plasenta
  • Perdarahan dengan nyeri    
  • Perdarahan segera disusul partu
  • Perdarahan keluar hanya sedikit
  • Palpasi sukar
  • Bunyi jantung anak biasanya tidak ada
  • Pada toucher tidak teraba plasenta tapi ketuban yang terus menerus tegang
  • Ada impressi pada jaringan plasenta karena haematon


Plasenta Previa
  • Perdarahan tanpa nyeri
  • Perdarahan berulang-ulang sebelum partus
  • Perdarahan keluar banyak
  • · Bagian depan tinggi
  • · Biasanya ada
  • · Teraba jaringan plasenta
  • · Robekan selaput marginal

C. Kehamilan ektopik
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan dengan sel telur yang telah dibuahi tumbuh dan berimplantasi (menempel) di tempat yang normal yakni dalam endometrium (selaput lendir yang kaya kelenjar) rongga rahim (kavum uterus).
Kehamilan ektopik dapat terjadi di beberapa tempat pada organ reproduksi wanita selain rongga rahim, antara lain di tuba falopii (saluran telur), kanalis servikalis (leher rahim), ovarium (indung telur), dan rongga perut. Yang terbanyak terjadi di tuba falopii (90%).
Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus (ruptur/gugur) apabila kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang tempat implantasi, keadaan ini disebut kehamilan ektopik terganggu. Kehamilan ektopik merupakan suatu keadaan yang berbahaya karena dapat menyebabkan perdarahan hebat dan berulang. Pada akhirnya, ini dapat menyebabkan penurunan fertilitas atau kesuburan dan bahkan kematian ibu dan janin.
Pada kehamilan normal, proses pembuahan (pertemuan sel telur dengan sperma) terjadi pada tuba, kemudian sel telur yang telah dibuahi digerakkan dan berimplantasi pada endometrium rongga rahim. Kehamilan ektopik dapat disebabkan antara lain karena bekas radang pada tuba, sehingga hasil pembuahan terhambat ke rongga rahim, terdapat tumor atau kista pada tuba, endometriosis (jaringan endemetrium ditemukan di luar kavum uteri dan di luar miometrium), memiliki riwayat operasi tuba, dan kelainan anatomi kongenital.
Pada kehamilan perut, janin berkembang dalam rongga perut, namun tempat pertumbuhan yang tidak sempurna menyebabkan janin tidak tumbuh normal atau kematian janin. Bila janin meninggal pada usia kehamilan lanjut, maka janin dapat membatu.
2.Sakit Kepala Yang Hebat
Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan, dan seringkali merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan.Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah serius adalah sakit kepala yang hebat, menetap dan tidak hilang dengan beristriahat. Kadang-kadang, dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan adalah gejala dari pre eklampsia.
3.Penglihatan Kabur
Karena pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan ibu dapat berubah dalam kehamilan. Perubahan ringan adalah normal.Masalah visual yang mengindikasikan keadaaan yang mengancam jiwa adanya perubahan visual (penglihatan) yang mendadak, misalnya pandangan kabur atau ada bayangan, melihat bintik-bintik (spot), berkunang-kunang. Selain itu adanya skotama, diplopia dan ambiliopia merupakan tanda-tanda yang menunjukkan adanya pre-eklampsi berat yang mengarah pada eklampsi. Hal ini disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks cerebri atau di dalam retina (oedema retina dan spasme pembuluh darah).Perubahan penglihatan ini mungkin disertai dengan sakit kepala yang hebat dan mungkin suatu tanda dari pre eklampsia.
4.Bengkak Pada Muka Dan Jari Tangan
Hampir separuh dari ibu-ibu hamil akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya muncul pada sore hari dan biasanya hilang setelah beristirahat atau dengan meninggikan kaki lebih tinggi daripada kepala.
Bengkak dapat menjadi masalah serius  jika muncul pada wajah dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat dan disertai dengan keluhan fisik lain. Hal ini dapat merupakan pertanda dari anemia, gangguan fungsi ginjal, gagal jantung ataupun pre eklampsia.
Gejala anemia dapat muncul dalam bentuk oedema (bengkak) karena dengan menurunnya kekentalan darah pada penderita anemia, disebabkan oleh berkurangnya kadar hemoglobin (Hb, sebagai pengangkut oksigen dalam darah). Pada darah yang rendah kadar Hb-nya, kandungan cairannya lebih tinggi dibandingkan dengan sel-sel darah merahnya.
Oedema adalah penimbunan cairan yang berlebihan dalam jaringan tubuh dan dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Oedema pretibial  yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa, sehingga tidak seberapa berarti untuk penemuan diagnosis pre-eklampsia. Oedema yang mengkhawatirkan adalah oedema yang muncul mendadak dan cenderung meluas.
5.Keluar Cairan Per Vaginam
 Cairan pervaginam dalam kehamilan normal apabila tidak berupa perdarahan banyak, air ketuban maupun leukhore yang patologis. Penyebab terbesar persalinan prematur adalah ketuban pecah sebelum waktunya. Insidensi ketuban pecah dini 10 % mendekati dari semua persalinan dan 4 % pada kehamilan kurang 34 mg.
 Penyebabnya ketuban pecah sebum waktunya adalah
  • Serviks inkompeten
  • Ketegangan rahim berlebihan (kehamilan ganda, hidramnion)
  • Kelainan bawaan dari selaput ketuban
  • Infeksi.
 Penatalaksanaannya yaitu pertahankan kehamilan sampai matur,pemberian kortikosteroid untuk kematangan paru janin, pada UK 24-32 minggu untuk janin tidak dapat diselamatkan perlu dipertimbangkan melakukan induksi, pada UK aterm dianjurkan terminasi kehamilan dalam waktu 6 jam sampai 24 jam bila tidak ada his spontan.

6.Gerakan Janin tidak Terasa
Ibu hamil mulai dapat merasakan gerakan bayinya pada usia kehamilan 16-18 minggu (multigravida, sudah pernah hamil dan melahirkan sebelumnya) dan 18-20 minggu (primigravida, baru pertama kali hamil). Jika bayi tidur, gerakannya akan melemah. Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam (10 gerakan dalam 12 jam).Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika ibu berbaring/beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik.
Gerakan janin berkurang bisa disebabkan oleh aktifitas ibu yang berlebihan sehingga gerak janin tidak dirasakan, kematian janin, perut tegang akibat kontraksi berlebihan ataupun kepala sudah masuk panggul pada kehamilan aterm.
7.Nyeri Abdomen Yang Hebat
Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan adalah tidak normal.Nyeri abdomen yang mengindikasikan mengancam jiwa adalah yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat, kadang-kadang dapat disertai dengan perdarahan lewat jalan lahir.
Hal ini bisa berarti kehamilan ektopik (kehamilan di luar kandungan), aborsi (keguguran), penyakit radang panggul, persalinan preterm, solutio placenta.